TENTANG PASAR MUSIK

Pasar seperti momok dan ketakutan yang terus mencengkeram kepala para musisi kita sebelum berkarya.
Pasar jugalah yang sering menjadi alasan utama untuk “sengaja” mengkiblatkan karya yang sedang dibuat.

Tapi tahukah kawan-kawan gerilyawan semua? bahwa musisi sejati tak pernah berpikir karyanya akan laku atau tidak. Tugas musisi adalah berkarya sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya.

Masalah laku atau tidak, bukan urusan musisi. Tapi urusan promosi. Ini jelas bidang yang berbeda. Namun beruntunglah jika anda adalah musisi yang sekaligus berjiwa promotor. Berjiwa marketer. Karena anda-anda tak perlu menghiba-hiba, meratap-ratap, merendah-rendah pada label-label besar. Kenapa ? Sebab sesungguhnya anda bisa menjadi pebisnis musik dan menciptakan pasar musik anda sendiri. Menawar-nawarkan demo pada sebuah label adalah gaya lama yang sesungguhnya sudah ketinggalan. Saatnya anda berlatih menjadi produser bagi musik anda sendiri.

Sekarang beralihlah untuk berjual kecap pada para investor atau pemilik modal, yakinkan mereka bahwa musik anda layak jual. Jika dia oke dengan tawaran untuk berinvestasi pada band anda (mungkin juga karena kasihan melihat kegigihan anda dalam berpromosi), maka selanjutnya tinggal pikirkan dengan serius langkah-langkah dan strategi promosi distribusi band anda. Jangan sampai kejeblos ! Anda sedang mempertaruhkan duit orang dalam bisnis ini. Jangan mudah tertipu penawaran orang. Berhitunglah dengan cermat dan efisien. Kalo perlu rajin-rajinlah menghadap SHANG DEWA GOOGLE, dapatkan info sebanyak-banyak disana.

Jika anda takut pinjam modal pada orang, boleh juga siap-siap menggadaikan rumah, pinjam bank. Log Zlebor, Dewa Budjana dan sejumlah entertainer besar yang kita kenal saat ini pernah melakukannya, tak tanggung-tanggung dalam berbuat. Mereka percaya, musik adalah hidupnya. Disana mereka akan makan minum dan menghidupi keluarganya. Beranilah jadi WIRASWASTAWAN MUSIK. Berpikirlah positif bahwa anda sedang menjadi seorang pengusaha, dan musik sebagai proyeknya.

Berkacalah pada band-band besar luar yang lebih memilih memproduseri karya-karya mereka sendiri daripada diperas keringatnya oleh orang lain. Fakta mencatat bahwa mereka justru kaya bukan karena meledaknya album mereka dibawah label, tapi oleh album yang mereka produseri sendiri (wajar, sebab keuntungan mereka menjadi lebih besar tanpa perlu berbagi dengan label). Tidak percaya ? Buka cover kaset/CD band-band itu, lihat di bagian title, lantas pelototi siapa produsernya. Kebanyakan cuma ada 2 kemungkinan : salah satu personil band atau teman-teman dari lingkungan band itu. Label biasanya hanya untuk partner titip edar.

Ayo belajar juga dari band-band legendaris tanah air. Contohnya pada SLANK yang memproduseri sendiri deretan albumnya sejak jaman kuda masih melata. Mereka berkarya dan mencipta pasar sendiri. Tak kenal lelah bergerilya dan otomatis masuk dalam jajaran band-band legenda tanah air.

Bandingkan dengan band-band yang meraih jutaan kopi secara sekejap dibawah label. Setelah tidak laku lagi, kemanakah mereka sekarang berada ? apakah mereka balik kampung lagi untuk beternak dan bercocok tanam ? Adakah mereka jadi band legenda ? Ataukah justru masuk dalam jajaran : habis manis sepah dibuang ?

Hem…
Setelah melihat banyak fakta,
Masihkah pasar dijadikan sumber ketakutan ?

(Catatan ELEX YO BEN “EYB” : dari sebuah sudut di PADEPOKAN GERILYA 07609)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: